HAKEKAT
STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Pengertian
Strategi Pembelajaran
a. Pengertian
Strategi
Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka
panjang. Strategi juga dapat diartikan sebagai rencana yang disatukan, luas dan
berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan
tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari
perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Glueck
dan Jauch, p.9, 1989). Berikut pengertian strategi secara umum dan secara
khusus:
1.
Secara umum
Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin
puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan
suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.
2.
Secara khusus
Strategi merupakan tindakan yang bersifat inkremental
(senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut
pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan
demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan
dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan
perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies).
Perusahaan perlu mencari kompetensi inti didalam bisnis yang dilakukan.
b. Pengertian
Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat serta pembentukan kepercayaanan
dan sikap pada peserta didik.
Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Berikut
pengertian pembelajaran, menurut:
a.
Menurut Gagne dan Briggs,
pembelajaran adalah suatu system yang bertujuan untuk membantu proses belajar
siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian
rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang
bersifat internal.
b.
Menurut Slamet PH (2003) mengatakan
bahwa pembelajaran merupakan upaya sistematis dari lembaga tertentu untuk
membawa peserta didik menguasai kompetensi tertentu.
c.
Pembelajaran adalah memberikan
kebebasan kepada siswa untuk memilih bahwa pelajaran dan cara mempelajarinya
sesuai dengan mnat dan kemampuan. (Darsono Max, 2000:24)
Jadi, Pembelajaran
adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya
perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu
dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama
dan karena adanya usaha.
Maka dapat disimpulkan bahwa :
Strategi pembelajaranadalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan
siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
B. Konsep dan Prinsip belajar dan
Pembelajaran
Belajar, pada hakekatnya, adalah proses interaksi
terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang
sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai
pengalaman. Menurut Sudjana,1989 Belajar juga merupakan proses melihat,
mengamati dan memahami sesuatu. Sedangkan menurut Witherington, 1952
menyebutkan bahwa “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang
dimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon yang berupa keterampilan,
sikap, kebiasaan, kecakapan atau pemahaman”.
Proses
belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi di mana ia tidak dapat
menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus mengatasi
rintangan-rintangan yang mengganggu kegiatan-kegiatan yang diinginkan. Proses
penyesuain diri mengatasi rintangan terjadi secara tidak sadar, tanpa pemikiran
yang banyak terhadap apa yang dilakukan. Dalam hal ini pelajar mencoba
melakukan kebiasaan atau tingkah laku yang telah terbentuk hingga ia mencapai
respon yang memuaskan.
Jadi belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang berkesinambungan antara
berbagai unsur dan berlangsung seumur hidup yang didorong oleh berbagai aspek
seperti motivasi, emosional, sikap dan yang lainnya dan pada akhirnya
menghasilkan sebuah tingkah laku yang diharapkan. Unsur utama dalam belajar
adalah individu sebagai peserta belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong,
situasi belajar, yang memberikan kemungkinan terjadinya kegiatan belajar.
Hakikat
pembelajaran adalah suatu sistem belajar yang terencana dan sistematis dengan
maksud agar proses belajar seseorang atau kelompok orang dapat berlangsung
sehingga terjadi perubahan, yakni meningkatkan kompetensi pembelajar tersebut.
Karena itu, guru sebagai ujung tombak dalam pembelajaran seharusnya berusaha
menciptakan sistem lingkungan atau kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar
dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Pembelajaran
merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan,
bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru.
Belajar memiliki tiga atribut pokok ialah:
1.
Belajar merupakan proses mental dan
emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
2.
Hasil belajar berupa perubahan
perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
3.
Belajar berkat mengalami, baik
mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui
media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan.
(lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
Tujuan belajar bagi subyek belajar adalah untuk:
1.
mendapatkan dan meningkatkan
pemahamannya tentang pengetahuan
2.
menanamkan konsep dan meningkatkan
ketrampilan
3.
pembentukan sikap.
Ada empat pilar dalam belajar, yaitu:
1.
learning to know - akal
budi/pengetahuan
2.
learning to do - aplikasi/perbuatan
3.
learning to be - pengembangan
eksistensi
4.
learning to live together - makhluk
sosial
Agar belajar terjadi secara efektif perlu diperhatikan
beberapa prinsip antara lain:
1.
Motivasi, yaitu dorongan untuk
melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan
pembelajaran itu sendiri.
2.
Perhatian atau pemusatan energi
psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Untuk memusatkan
perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu
sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya.
3.
Aktivitas. Belajar itu sendiri
adalah aktivitas. Bila fikiran dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam
situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan
metode dan media yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.
4.
Umpan balik di dalam belajar sangat
penting, supaya siswa segera menge-tahui benar tidaknya pekerjaan yang ia
lakukan. Umpan balik dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap
kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.
5.
Perbedaan individual adalah individu
tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu
memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing.
Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan.
Semua unsur atau komponen tersebut
saling berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya berfungsi dengan
berorientasi kepada tujuan
C.
Perbedaan
Pendekatan, Strategi, metode dan teknik Pembelajaran
Pendekatan Pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya
masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Pendekatan
pembelajaran adalah muatan-muatan etis-paedagogis yang menyertai kegiatan
proses pembelajaran yang berisi religius/spiritual, Rasional/intelektual,
Emosional, Fungsional, Keteladanan, Pembiasaan, dan Pengalaman.
Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
(1)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach)
(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi
atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Strategi
Pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan
siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008)
menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan.
Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang
keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Strategi pembelajaran adalah cara-cara tertentu yang digunakan secara
sistematis & prosedural dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar. Contoh : contextual teaching-learning,
Quantum teaching-learning, Active learning, Mastery learning, Discovery-inquiry
learning, cooperative Learning dan PAIKEM.
Dilihat dari
strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
(1) exposition-discovery
learning dan
(2) group-individual
learning
Ditinjau
dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat
dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran
deduktif.
Metode Pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
(1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4)
simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8)
debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Teknik
Pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang
dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan
metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan
teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan
metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.
Dari hasil
pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara model
pembelajaran, pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, tehnik dan metode
pembelajaran. Walaupun perbedaan itu tidak begitu tegas, karena semua istilah
merupakan satu kesatuan yang saling menunjang, untuk melaksanakan proses
pembelajaran.
D.
Faktor
penentu dalam pemilihan Strategi Pembelajaran
Terdapat
beberapa kriteria yang biasa dijadikan acuan dalam pemilihan Strategi Pembelajaran
(Sulo Lipu La Sulo dkk, 2002: 9; Gerlach dan Ely, 1980: 182-
187) antara lain :
1. Relevansi
yakni derajat kaitan fungsional antara strategi pembelajaran sebagai dimensi instrumental dengan tujuan/sasaran
belajar, dengan tolok ukur dari segi bagaimana sesuatu itu dipelajari dan
bukannya dari segi apa yang dipelajari.
Derajat relevansi dapat ditinjau dari tiga dimensi yakni :
a. Epistemologi
yakni relevansi dengan hakekat ilmu pengetahuan sumber bahan ajaran, baik
sebagai kumpulan informasi, cara memperoleh informasi, dan wawasan yang
menyertainya. Relevansi epistemologis itu mengharuskan agar cara pembelajaran
cabang ilmu pengetahuan yang bersangkutan harus serasi dengan substansi dan
metodologi keilmuannya. Umpamanya IPA seyogianya diajarkan melalui observasi
dan eksperimen.
b. Psikologi
yakni pengalaman belajar sebagai sarana pengembangan psikis, khususnya
kemampuan merumuskan dan memecahkan masalah. Relevansi psikologis ini harus
menyesuaikan cara pembelajaran dengan tahap perkembangan murid SD-MI antara
lain perkembangan kognitif periode
operasi konkrit, aktif/manipulatif, dan menyeluruh (holistik).
c. Sosial
yakni yang berkaitan dengan kedudukan dan fungsi sekolah sebagai lembaga sosial
baik dalam aspek sosialisasi maupun kemampuan pengembangan. Pembelajaran ini
harus serasi dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat sekitarnya.
2. Efektivitas
(hasil guna) yakni tingkat instrumentalitas atau hubungan kausal linier antara
strategi pembelajaran dengan tujuan yang ingin dicapai. Pemilihan suatu
strategi pembelajaran haruslah ditentukan dengan mempertimbangkan dari segi
kebutuhan pencapaian tujuan pembelajaran, dengan kata lain, strategi
pembelajaran yang tepat haruslah selalu memberikan hasil guna yang
optimal. Seperti diketahui. Muara
keberhasilan pembelajaran pada akhirnya diukur dari segi efektivitas, baik dari
segi dampak instruksional maupun dari segi dampak pengiring, sebagai berikut:
a. Dampak
instruksional pada mumnya ditinjau dari segi ketercapaian tujuan pembelajaran yakni terjadi perubahan prilaku
murid sesuai dengan tujuan pembelajaran,, seperti terkuasainya pengetahuan-pemahaman
(kognitif), terkuasainya ketrampilan yang diinginkan (psikomotorik) dan atau
terjadinya perubahan sikap dan wawasan
(afektif). Dampak instruksional inilah yang banyak diukur
ketercapaiannya melalui evaluasi hasil belajar.
b. Dampak
pengiring yakni sesuatu yang ikut tercapai di dalam pembelajaran meskipun di luar kawasan tujuan pembelajaran, sesuatu yang ikut tercapai,
utamanya melalui format belajar yang terjadi dalam pembelajaran, seperti
kemampuan berpikir kritis yang tumbuh dalam tanya-jawab/diskusi. Kemampuan
kerja sama dalam kerja kelompok, dsb. Di samping itu, terdapat dampak pengiring
yang sangat penting yakni tumbuhnya meta-kognisi dalam diri murid, yakni
kesadaran akan kemampuan belajar dan kemampuan untuk mengendalikan proses
kognitif itu. Hal terakhir ini sangat penting dalam rangka menumbuhkan
kemampuan dan kemauan untuk belajar seumur hidup.
3. Efisiensi
(daya guna) yakni yang berkaitan dengan perbandingan upaya (proses belajar)
dengan hasil (pencapaian tujuan) khususnya ditinjau dari prinsip
ekonomis, seperti pemilihan strategi
pembelajaran yang lebih sederhana, murah dan mudah, serta bervariasi tetapi
mencapai tujuan yang optimal. Efisiensi haruslah memperhitungkan daya guna
(segi waktu, biaya dan tenaga) namun tetap mencapai tujuan yang optimal . Seperti diketahui, sumber
daya (insani dan non insani) dan
dana pendidikan itu sangat terbatas sehingga haruslah dimanfaatkan dengan
menggunakan prinsip ekonomis yakni dengan daya dan dana yang terbatas namun
dapat diperoleh hasil yang optimal.
E.
Jenis-jenis
Strategi Pembelajaran
Beberapa
jenis – jenis strategi pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Strategi
Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Pembelajaran langsung adalah istilah yang sering
digunakan untuk teknik pembelajaran Ekspositoris , atau teknik penyampaian
semacam kuliah (sering juga digunakan istilah “chalk and talk ”).
Strategi pembelajaran langsung merupakan bentuk dan pendekatan pembelajaran
yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian,
sebab dalam staretgi ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui
strategi ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur.
Diharapkan apa yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus
utama strategi ini adalah kemampuan akademik (academic achievement) siswa.
Metode pembelajaran dengan kuliah dan demonstrasi merupakan bentuk-bentuk
strategi pembelajaran langsung.
2. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning
Cooperative Learning adalah strategi pembelajaran yang
menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang biasa terdiri
atas 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang
spesifik sampai tuntas. Strategi pembelajaran Cooperative Learning
mulai populer akhir-akhir ini. Melalui Cooperative Learning
siswa didorong untuk bekerja sama secara maksimal sesuai dengan
keadaan kelompoknya. Kerja sama di sini dimaksudkan setiap anggota kelompok
harus saling bantu. Yang cepat harus membantu yang lambat karena penilaian
akhir ditentukan oleh keberhasilan kelompok. Kegagalan individu adalah
kegagalan kelompok, dan sebaliknya keberhasilan individu adalah keberhasilan
kelompok. Oleh karena itu, setiap anggota harus memiliki tanggung jawab penuh
terhadap kelompoknya. Beberapa penulis seperti Slavin, Johnson, & Johnson,
mengatakan ada komponen yang sangat penting dalam strategi pembelajaran
cooperative yaitu kooperatif dalam mengerjakan tugas-tugas dan kooperatif
dalam memberikan dorongan atau motivasi. Slavin, Abrani, dan Chambers
(1996) berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari
beberapa perspektif, yaitu perspektif sosial, perspektif perkembangan kognitif
dan perspektif elaborasi kognitif. Perspektif motivasi, artinya bahwa
penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok
akan saling membantu. Dengan demikian keberhasilan setiap indivindu pada
dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan mendorong setiap
anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.
Perspektif sosial artinya bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling
membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh
keberhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh
kelompok, merupakan iklim yang bagus, di mana setiap anggota kelompok
menginginkan semuanya memperoleh keberhasilan. Perspektif perkembangan kognitif
artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat
mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi.
Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan
menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.
3. Strategi
Pembelajaran Problem Solving
Mengajar memecahkan masalah berbeda dengan penggunaan
pemecahan masalah sebagai suatu strategi pembelajaran. Mengajar memecahkan
masalah adalah mengajar bagaimana siswa memecahkan suatu persoalan, misalkan
memecahkan soal-soal matematika. Sedangkan strategi pembelajaran pemecahan
masalah adalah teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasai materi
pembelajaran dengan menggunakan strategi pemecahan masalah. Dengan demikian
perbedaan keduanya terletak pada kedudukan pemecahan masalah itu. Mengajar
memecahkan masalah berarti pemecahan masalah itu sebagai isi atau content
dari pelajaran, sedangkan pemecahan masalah adalah sebagai suatu
strategi. Jadi, kedudukan pemecahan masalah hanya sebagai suatu alat saja untuk
memahami materi pembelajaran. Ada beberapa ciri strategi pembelajaran
dengan pemecahan masalah:
Pertama , siswa
bekerja secara individual atau bekerja dalam kelompok kecil;
Kedua ,
pembelajaran ditekankan kepada materi pelajaran yang mendukung persoalan-persoalan
untuk dipecahkan dan lebih disukai persoalan yang banyak kemungkinan cara
pemecahanya;
Ketiga , siswa
mnggunakan banyak pendekatan dalam belajar;
Keempat , hasil
dari pemecahan maslah adalah tukar pendapat (sharing ) di antara semua siswa.
4. Strategi Mengulang
Strategi mengulang sederhana digunakan untuk sekedar
membaca ulang materi tertentu untuk menghafal saja. Contoh lain dari strategi
sederhana adalah menghafal nomor telepon, arah tempat, waktu tertentu, daftar
belanjaan, dan sebagainya. Memori yang sudah ada di pikiran dimunculkan kembali
untuk kepentingan jangka pendek, seketika, dan sederhana.
Penyerapan bahan belajar yang lebih kompleks memerlukan strategi mengulang
kompleks. Menggarisbawahi ide-ide kunci, membuat catatan pinggir, dan
menuliskan kembali inti informasi yang telah diterima merupakan bagian dari
mengulang kompleks. Strategi tersebut tentunya perlu diajarkan ke siswa agar
terbiasa dengan cara demikian.
5. Strategi
Elaborasi
Strategi elaborasi adalah proses penambahan rincian
sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna. Dengan strategi elaborasi,
pengkodean lebih mudah dilakukan dan lebih memberikan kepastian. Strategi
elaborasi membantu pemindahan informasi baru dari memori di otak yang bersifat
jangka pendek ke jangka panjang dengan menciptakan hubungan dan gabungan antara
informasi baru dengan yang pernah ada. Beberapa bentuk strategi elaborasi
adalah pembuatan catatan, analogi, dan PQ4R. Pembuatan catatan adalah strategi
belajar yang menggabungkan antara informasi yang dipunyai sebelumnya dengan
informasi baru yang didapat melalui proses mencatat. Dengan mencatat, siswa
dapat menuangkan ide baru dari percampuran dua informasi itu. Analogi
merupakan cara belajar dengan pembandingan yang dibuat untuk menunjukkan
persamaan antara ciri pokok benda atau ide, misalnya otak kiri mirip dengan
komputer yang menerima dan menyimpan informasi. P4QR merupakan strategi
yang digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. P4QR
singkatan dari Preview (membaca selintas dengan cepat), Question (bertanya),
dan 4R singkatan dari read, reflect, recite, dan review atau membaca,
merefleksi, menanyakan pada diri sendiri, dan mengulang secara menyeluruh.
Strategi PQ4R merupakan strategi belajar elaborasi yang terbukti efektif dalam
membantu siswa menghafal informasi bacaan.
6. Strategi
Organisasi
Strategi organisasi membantu pelaku belajar
meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru dengan struktur pengorganisasian
baru. Strategi organisasi terdiri atas pengelompokan ulang ide-ide atau istilah
menjadi subset yang lebih kecil. Strategi tersebut juga berperan sebagai
pengindentifikasian ide-ide atau fakta kunci dari sekumpulan informasi yang
lebih besar. Bentuk strategi organisasi adalah Outlining, yakni membuat garis
besar. Siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan
beberapa ide utama. Mapping, yang lebih dikenal dengan pemetaan konsep,
dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining. Mnemonics membentuk kategori
khusus dan secara teknis dapat diklasifikasikan sebagai satu strategi,
elaborasi atau organisasi. Mnemonics membantu dengan membentuk asosiasi yang
secara alamiah tidak ada yang membantu mengorganisasikan informasi menjadi
memori kerja. Strategi Mnemonics terdiri atas pemotongan, akronim, dan kata
berkait.